InsightMaret 16, 2026

Kenapa Resign Setelah Lebaran Jadi Tren di Dunia Kerja?

Setiap tahun, setelah libur Lebaran usai dan aktivitas kerja kembali berjalan normal, banyak perusahaan mulai menghadapi fenomena yang sama: jumlah karyawan yang mengajukan resign meningkat. Bagi sebagian HR, momen ini bahkan sudah seperti siklus tahunan yang hampir bisa diprediksi.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar kebetulan. Ada beberapa faktor yang membuat periode setelah Lebaran sering menjadi waktu bagi karyawan untuk mengambil keputusan besar terkait karier mereka. Mulai dari refleksi pribadi selama liburan hingga peluang kerja baru yang bermunculan.

 

Momen Refleksi Setelah Liburan Panjang

Libur Lebaran biasanya menjadi salah satu waktu istirahat terpanjang bagi banyak pekerja. Selama periode ini, rutinitas pekerjaan berhenti sejenak dan orang punya waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga.

Tanpa disadari, momen ini sering menjadi waktu refleksi. Banyak karyawan mulai memikirkan kembali perjalanan karier mereka: apakah pekerjaan saat ini masih memberikan kepuasan, apakah lingkungan kerja mendukung perkembangan, atau apakah ada pilihan lain yang lebih sesuai dengan tujuan hidup mereka.

Ketika kembali bekerja setelah liburan, sebagian orang merasa perspektifnya berubah. Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja bisa terlihat berbeda setelah memiliki waktu untuk berpikir dengan lebih tenang.

 

THR Sudah Diterima

Faktor lain yang cukup sering disebut adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Banyak karyawan memilih menunggu sampai THR diterima sebelum mengambil keputusan untuk resign.

Ini bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga soal rasa aman. Dengan adanya tambahan dana tersebut, sebagian orang merasa memiliki “buffer” sementara ketika mulai mencari pekerjaan baru atau menjalani masa transisi.

Akibatnya, tidak sedikit karyawan yang memang sudah merencanakan perpindahan kerja, tetapi menunggu momen setelah Lebaran untuk benar-benar mengeksekusinya.

 

Ketidakpuasan Kerja yang Sudah Lama Terpendam

Tidak semua keputusan resign muncul secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, keinginan untuk pindah kerja sebenarnya sudah muncul sejak lama.

Beban kerja yang terlalu tinggi, kurangnya apresiasi, lingkungan kerja yang tidak sehat, atau minimnya peluang pengembangan karier bisa menjadi pemicu. Namun, selama masih sibuk dengan rutinitas, banyak orang menunda keputusan tersebut.

Liburan panjang memberi jarak emosional dari pekerjaan. Ketika kembali bekerja, sebagian karyawan merasa lebih yakin dengan keputusan yang sebelumnya masih mereka pertimbangkan.

 

Banyak Lowongan Kerja Mulai Dibuka

Momentum setelah Lebaran juga sering menjadi waktu aktif bagi perusahaan untuk kembali membuka rekrutmen. Setelah kuartal pertama berjalan, banyak organisasi mulai menyesuaikan kebutuhan tim dan memperluas proses hiring.

Bagi karyawan yang sudah lama mempertimbangkan perubahan karier, situasi ini terasa seperti kesempatan yang tepat. Ketika peluang kerja baru bermunculan, keinginan untuk mencoba tantangan lain pun semakin besar.

 

Pengaruh Keluarga dan Prioritas Hidup

Lebaran identik dengan berkumpul bersama keluarga. Dalam suasana yang lebih santai dan hangat, percakapan sering kali berkembang ke berbagai topik, termasuk pekerjaan dan masa depan.

Tidak jarang, masukan dari orang tua, pasangan, atau saudara memicu sudut pandang baru. Ada yang mulai mempertimbangkan pekerjaan yang lebih dekat dengan rumah; ada juga yang ingin mencari karier dengan keseimbangan hidup yang lebih baik.

Percakapan sederhana di meja makan saat Lebaran kadang justru menjadi titik awal perubahan besar dalam keputusan karier seseorang.

 

Dampak Tingginya Turnover bagi Perusahaan

Bagi perusahaan, lonjakan resign setelah Lebaran tentu bukan hal yang sepele. Kehilangan karyawan berpengalaman bisa berdampak langsung pada operasional tim.

Selain itu, proses mencari pengganti juga membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari proses rekrutmen, onboarding, hingga pelatihan karyawan baru. Sementara itu, produktivitas tim bisa menurun sementara waktu karena adanya masa penyesuaian.

Jika terjadi dalam jumlah besar, turnover bahkan bisa memengaruhi stabilitas tim secara keseluruhan.

 

Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan untuk Mengurangi Turnover?

Menghadapi fenomena ini, perusahaan tentu perlu mencari cara agar karyawan tetap merasa nyaman dan ingin bertahan. Pendekatannya tidak selalu harus berupa kenaikan gaji besar. Sering kali yang dibutuhkan adalah perhatian terhadap kebutuhan karyawan secara lebih menyeluruh.

Salah satunya adalah dengan membangun komunikasi yang terbuka. Ketika karyawan merasa pendapat mereka didengar, hubungan kerja biasanya menjadi lebih sehat. Diskusi rutin, sesi feedback, atau survei kepuasan kerja bisa membantu manajemen memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh tim.

Perusahaan juga perlu memberikan kesempatan pengembangan karier yang jelas. Banyak karyawan memutuskan untuk resign karena merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang. Program pelatihan, mentoring, atau jalur promosi yang transparan bisa membantu karyawan melihat masa depan mereka di perusahaan.

Selain itu, benefit yang relevan juga semakin penting. Tidak sedikit karyawan yang menghadapi tekanan finansial, terutama ketika kebutuhan hidup meningkat. Dalam situasi seperti ini, dukungan perusahaan bisa membuat perbedaan besar.

Beberapa perusahaan mulai menyediakan akses ke solusi finansial seperti Earned Wage Access (EWA) dan Advance Wage Access (AWA) melalui platform seperti VENTENY.

Melalui EWA, karyawan dapat mengakses sebagian gaji yang sudah mereka hasilkan sebelum tanggal gajian. Sementara AWA memberikan fleksibilitas tambahan berupa akses dana dengan skema pembayaran yang lebih terencana.

Bagi karyawan, solusi seperti ini dapat membantu menghadapi kebutuhan mendesak tanpa harus mencari pinjaman dari sumber yang tidak jelas. Sementara bagi perusahaan, benefit finansial seperti ini bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan tim.

 

Penutup

Resign setelah Lebaran memang sering dianggap sebagai tren di dunia kerja. Namun, di balik fenomena tersebut, ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan karyawan, mulai dari refleksi pribadi, kondisi pekerjaan, hingga peluang baru di luar sana.

Bagi perusahaan, memahami alasan-alasan ini adalah langkah awal yang penting. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan menyediakan benefit yang relevan, perusahaan tidak hanya mampu mengurangi turnover, tetapi juga membangun tim yang lebih loyal dan produktif dalam jangka panjang.